Selasa, 15 Oktober 2013

resume 3 (Peranan Keluarga Dalam Mengembangkan Bakat dan kreativitas Anak)



Teori Pengembangan Kreativitas ( creativity Intersection )
Dalam membantu anak mewujudkan kreativitas mereka, anak perlu dilatih dalam keterampilan tertentu sesuai dengan minat pribadinya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat atau talenta mereka. Keberhasilan kreatif adalah persimpangan (intersection) antara keterampilan anak dalam bidang tertentu (domain skills), keterampilan berpikir dsn bekerja kreatif dan motivasi intrinsic, dapat juga disebut dengan motivasi batin)
Karakteristik Keluarga yang Kreatif
1. Penelitian Dacey
    Dacey pada tahun 1989 melakukan penelitian di Inggris terhadap kehidupan keluarga.
Kesimpulan yang ditarik dari studi ini :
               # Faktor Genetis Vs Lingkungan
                 Cara asuhan orangtua dan iklim keluarga mempengaruhi kreativitas anak untuk berada di  atas rata-rata dalam prestasi kreatif
               # Aturan Perilaku
                   Orangtua dari remaja kreatif tidak banyak menetukan atura perilaku didalam keluarga
               # Tes Kreativitas sebagai Prediktor Prestasi Kreatif Remaja
                  Banyak tes kreativitas yang kurang absah dalam pengukuran kreatif pada remaja. Perlu diingat bahwa kreativitas merupakan “trait” yang relatif kurang stabil, terutama pada masa remaja.
               # Masa Kritis
                  Ketika remaja merasa bahwa mereka sedang berada dalam masa kritis hidupnya maka mereka dapat berpikir lebih imajinatif dan berani mengambil resiko dalam bertindak.
               # Humor
                   Bercanda, berolok-olok, dan memperdayakan sebagai lelucon biasanya terjadi pada keluarga kreatif.
               # Ciri-ciri Menonjol Lainnya
                   Bertentangan dengan pendapat stereotype, anak-anak kreatif melihat dirinya mudah bergaul dengan orang lain dan menilai tinggi ciri ini.
               # Perumahan
                   Kebanyakan dari keluarga kreatif menempati rumah yang jauh berbeda dari rumah-rumah oranglain. Biasanya didalam rumah dekorasinya dengan koleksi yang langkah.
               # Pengakuan dan Penguatan pada Usia Dini
                   Kebanyakan anak kreatif mengatakan bahwa mereka merasakan mendapat dorongan kuat dari orangtua mereka.
               # Gaya Hidup Orangtua
                   Kebanyakkan orangtua dari keluarga kreatif dapat menceritakan salah satu aspek dari kehidupan merekayang tidak biasa.
               # Trauma
                   Anak kreatif lebih banyak mengalami trauma dari anak biasa.
               # Dampak dari Sekolah
                   Sekolah ataupun guru membantu siswa dalam meningkatkan kreativitas anak namun, dalam studi ini jarang ditemukan
               # Bekerja Keras
                   Kreativitas lebih banyak merupakan hasil dari kerja keras.
               # Dominasi lateral
                   Beberara teorikus berpendapat bahwa kekidalan lebih banyak ditemukan pada pribadi-pribadi kreatif.
               # Perbedaan Jenis Kelamin
                   Gender dari sample remaja tidak menunjukan ada perbedaan yang nyata dalam nilai kreativitas.
               # Penilaian orangtua Mengenai Kreativitas Anak
               # Jumlah Koleksi
                   Makin tinggi kreativitas remaja, makin banyak jumlah koleksi mereka.
2. Hubungan Antara Latar Belakang Keluarga dan Kinerja Anak
Pada umumnya tampak bahwa makin tinggi tingkat pendidikan orangtua, main baik prestasi anak. yang menarik bahwa pendidikan ibu lebih jelas dan positif hubungannya dengan prestasi anak dibandingkan pendidikan ayah.
Sehubung dengan sikap orangtuadalam pendidikan, data menunjukan bahwa perhatian merupakan determinan yang positif dari kinerja kreatif seorang anak, akan tetapi pendekatan otoriter mempunyai dampak yang sebaliknya terhadap kinerja anak.
3. Studi Tentang Keluarga Anak Berbakat di Indonesia
Hasil studi ini menunjukkan bahwa orangtua dari anak berbakat mempunyai tingkat pendidikan, jabatan professional, dan penghasilan yang lebih tinggi. Ciri-ciri anak yang menurut orangtua perlu dikembangkan dalam penelitian ini nyata bahwa orangtua berbakat lebih mementingkan cirri “ ketekunan” dan “inisiatif” dibandingkan orangtua pada kelompok anak yang memiliki kecerdasan rata-rata.
Mengembangkan Kreativitas Anak di Rumah
Anak-anak yang hidup dalam lingkungan yang merangsang dan tidak konversional akan belajar menikmati keragaman, keterbukaan, dan orisinalitas. Kebebasan dan kesempatan untuk melakukan macam-macam kegiatan. Disini penerapan-penerapan 4P sangat perlu dilakukan dalam mengembangkan kreativitas anak.
Dampak Sikap Orangtua Terhadap Kreativitas Anak
Beberapa factor yang menentukan hubungan sikap orangtua secara langsung mempengaruhi kreativitas anak mereka:
^kebebasan
^Respek
^Kedekatan Emosional yang Sedang
^Prestasi bukan Angka
^Orangtua Aktif dan Mandiri
^menghargai Kreativitas

Rabu, 25 September 2013

Pribadi yang kreatif



Siapa menurut kamu seseorang yang kreatif??

Jika pertanyaan itu di tanyakan kepada saya, banyak orang yang mnurut saya memiliki kreativitas. Setiap orang memiliki bibit kreativitas tergantung bagaimana seseorang dan lingkungannya membentuk atau mengembangkan bibit kreativitas tersebut.

Orang yang terlintas di pikiran saya pertama kali ketika pertanyaan itu diberikan kepada saya adalah kakak saya yang nomor dua. Nama kakak saya adalah Mika Rumondang Napitupulu yang juga merupakan orang yang saya teladani. Saya menyatakan hal tersebut ketika kakak saya sering membuat barang-barang buatan tangannya sendiri.


(foto saya bersama kakak saya )

Ketika sahabat kakak saya berulang tahun kakak saya ingin memberikan hadiah berupa kerajinan tangan buatannya, karena menurutnya sesuatu yang dibuat dengan kerja keras dan sepenuh hati jauh lebih berarti dari pada hadiah yang langsung dibeli di toko. Ia berencana untuk membuat bingkai foto yang unik dengan foto temannya yang dikelilingin foto-foto mereka saat moment-moment bahagia.

Dalam pembuatan bingkai foto tersebut saya dapat menyampaikan 4P yang terjadi.

1. Person

    Kakak saya memang pribadi yang kreatif yang suka membuat benda-benda handmade dari barang-barang seperti korang bekas, stick eskrim, dan barang-barang yang sudah tidak dipakai. Dan untuk pembuatan bingkai foto tersebut dia sudah memikirkan ide – ide menarik dalam pikirannya.

2. Press

    Dorongan yang membuat dirinya ingin membuat produk kreatif itu adalah karena ingin memberikan hadiah yang istimewa kepada temannya yang berulang tahun berupa bingkai foto buatan sendiri yang didalamnya banyak tersimpan momeny-moment istimewa saat mereka bersama.

3. Proses

    Proses yang terjadi ialan ketika ia sudah menyiapkan segala alat dan bahan yang diperlukan dan menuangkan ide yang ada dalam pikirannya. Mengerjakannya dengan tahap  demi tahap dengan hati-hati. Ia mengerjakannya dengan sepenuh hati.

4. Produk Kreatif

   Setelah menuangkan ide kreatifnya, bingkai foto itu pun selesai. Hasilnya sangat bagus menurutku. Disetiap foto kakak saya menuliskan kenangan yang ada dalam foto tersebut. Dalam satu frame kita dapat melihat alur persahabatan mereka mulai dari awal perjumpaan. Ketika temannya menerima hadiah tersebut, temannya sangat senang dan terharu menerima hadiah tersebut. 

Demikan yang dapat saya sampaikan. Ingat bahwa kreativitas tidak hanya ada pada orang-orang tertentu, saya, kamu, mereka semua memiliki kreativitas tergantung bagaimana kamu mengembangkannya.

Selasa, 17 September 2013

Resume 2 ( Pendekatan 4P dalam Pengembangan Kreativitas )

Setiap orang pada dasarnya memiliki bakat kreatif dan kemampuan untuk mengungkapkan dirinya secara kreatif,meskipun dalam proses pengungkapannnya berbeda-beda,tetapi yang penting ialah bahwa bakat tersebut  perlu dikembangkan dan ditingkatkan.



Manfaat mengembangkan kreativitas sejak usia dini :
  • Dapat mewujudkan / mengaktualisasikan diri yang merupakan kebutuhan pokok tertinggi manusia
  • Sebagai kemampuan dalam menyelesaikan masalah
  • Kreativitas tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan, tetapi juga memberikan kepuasan bagi diri individu
  • Kreativitas memungkinkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Ada beberapa teori empat P yang melandasi pengembangan kreativitas. Pertama, teori tentang pembentukan pribadi kreatif. Dalam teori tersebut, terdapat dua teori yang mendasarinya, yaitu teori Psikoanalisis dan teori Humanistik.  

1. Teori Psikoanalisa


    Teori – teori psikoanalisa melihat kreativitas sebagai hasil mengatasi suatu maslah,yang biasanya mulai di masa anak.
1.   Teori Sigmud Freud  ( 1856 – 1939) mengatakan bahwa ciri kepribadian yang menetap pada lima tahun pertama dari kehidupan,ia menjelaskan proses kreatif dari mekanisme pertahanan yang merupakan upaya tidak sadar untuk menghindari kesadaran mengenai ide-ide yang tidak menyenangkan atau yang tidak dapat diterima.
2.   Teori Ernest Kris (1900 -1957) menenkankan bahwa mekanisme pertahanan regresi beralih ke perilaku sebelumnya yang akan memberi kepuasan,jika perilaku sekarang tidak berhasil atau tidak memberi kepuasan yang juga sering muncul dalam tindakan kreatif. Orang–orang kreatif adalah mereka yang paling mampu mengambil bahan–bahan dari alam pikiran tidak sadar.
3.   Teori Carl Jung (1875 – 1961) juga percaya bahwa ketidaksadaran memainkan peranan yang amat penting dalam kreativitas tingkat tinggi.Secara tidak sadar kita mengingat pengalaman–pengalaman yang paling berpengaruh dari nenek moyang kita dan dari ketidaksadaran kolektif ini timbul penemuan,teori,seni,dan karya-karya baru lainnya.


2.   Teori Humanistik
      
 
       Berbeda dari teori psikoanalisa,teori humanistik melihat kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis tingkat tinggi dan kreativitas dapat berkembang selama hidup dan tidak terbatas pada lima tahun pertama.
1.      Teori Abraham Maslow ( 1908 – 1970) manusia mempunyai naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan.Kebutuhan ini harus dipenuhi dalam urutan tertentu.
2.      Teori Carl Rogers ( 1902 – 1987) mengatakan bahwa ada tiga kondisi dari pribadi yang kreatif  yaitu :  
            1. Keterbukaan terhadap pengalaman
            2. Kemampuan untuk menilai situasi dengan patokan pribadi seseorng
            3. Kemampuan untuk bereksperimen ,untuk bermain dengan konsep – konsep.

Setiap orang yang memiliki ketiga ciri ini kesehatan psikologisnya sangat baik. Orang ini berfungsi sepenuhnya,menghasilkan karya–karya kreatif dan hidup secara kreatif.Ketiga ciri ini juga merupakan dorongan dari dalam untuk berkreasi


Ciri-ciri kepribadian yang kreatif, yaitu anak memiliki minat dan rasa ingin tahu yang tinggi, tekun, percaya diri serta berani mengambil resiko serta berani tampil beda dan tindakan nya terorganisir.


Teori tentang "press"

Menekankan pada teori Rogers mengenai kondisi internal (dorongan berasal dari diri sendiri) dan kondisi eksternal (dorongan yang berasal lingkungan) yang dapat mendorong seseorang untuk mengembangkan kreativitasnya.

Teori tentang " proses kreatif "

Didasari oleh teori Wallas dan teori tentang belahan otak kanan dan kiri. Menurut teori Wallas, proses kreatif meliputi empat tahap, yaitu Persiapan, Inkubasi, Iluminasi, dan Verifikasi. Sedangkan menurut teori belahan otak, proses kreatif didominasi oleh belahan otak kanan

Teori tentang "Produk kreatif"

Dalam teori tersebut, menekankan pada model dari Besemer dan Treffinger. Pada model ini, produk kreatif digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu kebaruan (novelty), pemecahan (resolution), serta kerincian (elaboration).


        Pendekatan 4P, yaitu Pribadi, Pendorong, Proses serta Produk dapat dijadikan sebagai strategi dalam mengembangkan kreativitas.

Pribadi, kepribadian unik yang dimiliki individu dapat menimbulkan kreativitas sehingga dapat memunculkan ide-ide atau produk yang inovatif.
Pendorong, kreativitas dapat muncul karena adanya motivasi internal (berasal dari diri sendiri) dan motivasi eksternal (berasal dari lingkungan).  
Proses, dalam hal ini anak hendaknya diberi kebebasan serta kesempatan untuk berpikir kreatif sehingga mereka dapat berproses dan dapat menghasilkan produk yang kreatif.
 Produk, berkaitan dengan pribadi, pendorong serta proses, maka seseorang yang kreatif dapat menghasilkan produk yang kreatif pula. 

       Selain digunakan sebagai strategi pengembangan kreativitas, pendekatan 4P juga dapat digunakan untuk penelitian tentang kreativitas.

Rabu, 11 September 2013

DASAR PERTIMBANGAN, KEBIJAKKAN, DAN KONSEP KEBERBAKATAN DAN KREATIVITAS ( resume 1)

Dasar Pertimbangan untuk Pengembangan Kreativitas

a. Hakikat Pendidikan
pendidikan memiliki peranan yang sangat menentukan bagi perkembangan dan perwujudan diri individu , terutama bagi pembangunan bangsa dan Negara. Tujuan pendidikan itu sendiri pada umumnya adalah menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannyasecara optimal, sehingga dia dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pribadinya dan masyarakat.
Setiap orang memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda-beda. Akhirnya makin disadari bahwa menentukan keterbakatan seseorang tidak hanya ditentukan dari inteligensi melainkan juga kreativitas dan motivasi untuk berprestasi.

b. Kebutuhan akan Kreativitas
kebutuhan akan kreativitas dibutuhkan di setiap aspek kehidupan, mulai dari bidang ekonomi, kesehatan, politik maupun dalam bidang budaya dan sosial. Guilford, seorang presiden dari American psychological Association menekankan bahwa penelitian dalam bidang kreativitas sangat kurang.
Perhatian utama terhadap kreativitas dan kesadaran akan pentingnya bagi dunia ilmu pengetahuan datang dari bidang di luar psikologi. Banyak departemen pemerintah mencari orang-orang yang memiliki potensi kreatif-inventif.

c. Kendala dalam Pengembangan Kreativitas
kendala konseptual utama terhadap study kreativitas adalah pengertian kreativitas sebagai sifat yang diwarisi oleh orang yang berbakat, luar biasa atau genius. Kendala selanjutnya ialah terhadap gerakkan kreativitas yang terletak pada alat-alat tes yang biasa dipakai disekolah yang tolak ukurnya tidak sesuai dengan makna kreativitas yang sesungguhnya.

d. hubungan kreativitas-inteligensi
berhubungan dengan masalah dimensionalisasi inteligensi-kreativitas dalam penelitian utami munandar (1977) dari hasil studi korelasi dan analisi factor membuktikan bahwa tes kreativitas sebagai dimensi fungsi kognitif yang relatif bersatu yang dapat dibedakan dari tes inteligensi; tetapi berpikir divergen ( kreativitas) juga menunjukkan hubungan yang bermakna dengan berpikir konvergen ( inteligensi).

e. Sikap Guru dan Orangtua
Kemampuan-kemampuan dan cirri-ciri kepribadian tidak pernah lepas dari factor lingkungan sekitar. Orangtua maupun pendidik berperan besar dalam pengembangan kreativtas anak. Yang dapat dilakukan pendidik adalah dengan mengembangkan sikap dan kemampuan anak didiknya yang dapat membantu untuk menghadapi persoalan-persoalan di masa mendatang secara kreatif dan inventif.

Dasar Pertimbangan untuk Anak Berbakat.

Adanya kekhawatiran bahwa pelayanan pendidikan khusus bagi yang berbakat adalah tidak demokratis, membentuk kelompok elite dan merupakan pemborosan. 

1. keberbakatan tumbuh dari proses interaktif antara lingkungan yang merangsang dan kemampuan pembawaan dan prosesnya.

2. pendidikan atau sekolah, hendaknya memberi kesempatan pendidikan yang sama kepada semua anak untuk mengembangkan potensinya.

3.adanya kekhawatiran bahwa pendidikan khusus bagi anak berbakat akan membentuk kelompok elite.

4. jika anak berbakat dibatasi dan dihambat dalam perkembangannnya maka mereka tidak dimungkinkan untuk maju lebih cepat dalam memperoleh materi.

5. anak dan remaja berbakat merasa bahwa mereka berbeda dari teman yang lain dan membuat mereka terasa terisolasi.

Konsep Kreativitas

Konsep yang amat penting dalam bidang kreativitas adalah hubungn antara kreativitas dan aktualisasi diri. Abraham Maslow dan Carl Roges, Aktualisasi diri ialah apabila seseorang menggunakan semua bakat dan talentanya untuk menjadi apa yang ia mampu dan mewujudkan potensinya.

Rogers menekankan bahwa sumber dari kreativitas adalah kecendrungan untuk mengaktualisasi diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang menjadi matang, kecendrungan untuk mengekspresikan, dan mengaktifkan semua kemampuan organism.

Implikasi dari pembedaan antara kreativitas aktualisasi diri dan kreativitas talenta khusus adalah penekanan pada pentingnya cirri-ciri afektif dari kreativitas –ciri-ciri kepribadian , sikap, motivasi, dan predidposisi untuk berpikir kreatif.



Kreativitas Aktualisasi diri adalah kekreatifan yang umum dan content free . banyak proses yang bertujuan : :
a. meningkatkan kesadaran kreativitas
b. memperkokoh sikap kreatif
c. mengajarkan teknik menemukan gagasan dan memecahkan masalah secara kreatif
d. melatih kemampuan kreatif secara umum.


Konsep Kreativitas dengan Pendekatan Empat P

Beberapa defenisi dari kreativitas berdasarkan Empat P oleh para pakar.

1. Defenisi Pribadi
Menurut Hulbeck, tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya.

2. Defenisi Proses
Menurut Torrance kreativitas pada dasarnya menyerupai langkah langkah mulai dari menemukan masalah sampai dengan menyampaikan hasi.

3. Defenisi Produk.
Menurut Baron, Kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang baru.

4. Defenisi Press
Kreativitas menekankan pada factor “press” yaitu dorongan internal ( dari diri sendiri berupa keinginan untuk mencipta atau bersibuk diri secara kreatif ) dan dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis.


Konsep Anak Berbakat dan Keterbakatan.

1. Defenisi USOE Tentang Keterbakatan.
Anak berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang professional diindetifikasi sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul.

2. Konsepsi Renzulli tentang Keterbakatan
Renzulli dan kawan-kawan menyatakan ada 3 ciri pokok yang merupakan criteria atau persyaratan keberbakatan ialah keterkaitan antara :
 Kemampuan umum di atas rata-rata
 Kreativitas diatas rata-rata
 Pengikatan diri terhadap tugas

Senin, 10 Juni 2013

TUGAS OBSERVASI FIX

A.          PENJELASAN DESKRIPSI SEKOLAH
Nama Sekolah                       :SMA Negeri 1 Galang
Alamat                                   :Jl. Besar Kompleks Galinda, Kabupaten Deli Serdang, 
Kecamatan Galang (no.telp 7981645)
Uang Sekolah                        :Rp. 50.000,-
Konsep e-learning 
yang digunakan                     :Individual Online dan Offline
Lama waktu 
penggunaan e-learning         : 2011 - sekarang
Narasumber:                         : Haris Nasution, S.Pd
 
B.          URAIAN OBJEKTIF OBSERVASI
Pelaksanaan                                            Rabu, 15 Mei 2013
Kelas yang di Observasi                        Kelas X-4
Lama Observasi                                     2 jam pelajaran x 45 menit = 90 menit
Pembagian tugas dalam Observasi
M. Ikhsan Pratama (121301018)       : Manejemen Kelas
M. Ikhwan Nasution (121301021)     : Dinamika pembelajaran&HUMAS
Melfa Y. Simanjuntak (121301046)  : Motivasi
Melva Febrina N. (121301064)          : Uraian Objektif&dokumentasi
Dian Arizka Pratiwi P. (121301098) : Teori Belajar
Novalia Tarigan (121301110)             : Orientasi belajar


C.     LAPORAN HASIL OBSERVASI
   Dari observasi yang kami lakukan, kami mengobservasi beberapa aspek yang terjadi di dalam proses pembelajaran di sekolah khususnya di kelas X4. Antara lain aspek sistem pembelajaran khususnya sistem pembelajaran E-Learning, motivasi siswa, manajemen kelas, dan beberapa aspek lainnya.
1.                  Konsep E-Learning

Dari segi penggunaan sistem belajar, sekolah tersebut sudah menggunakan sistem E-Learning. Hal ini sangat terlihat dari penggunaan proyektor pada saat proses pembelajaran, dan juga siswa-siswi di sekolah tersebut tergabung dalam sebuah media jejaring sosial yang juga di gunakan dalam membantu proses pembelajaran. Dalam pembelajaran, siswa juga di berikan beberapa referensi dari internet, seperti yang kami lihat langsung pada saat observasi ke sekolah tersebut. Pada saat itu siswa sedang dalam proses mata pelajaran Bahasa Inggris yang bahan pelajarannya lewat E-book (electronic book) yang berjudul Developing English Competencies. Konsep E-Learning yang terlihat di kelas tersebut saat di observasi adalah meliputi offline dan sinkron. 

2.                  Orientassi Belajar

Orientasi pembelajaran yang di gunakan adalah teacher centre learning, dimana guru bertindak sebagai pengajar, pembawa materi pelajaran (metode ceramah), pengontrol utama suasana kelas, pemberi instruksi, pemberi tugas kepada siswa, dan lainnya. Sehingga siswa cenderung pasif dan mengikuti arahan dan petunjuk dari pengajar. Namun siswa di berikan kebebasan untuk memberi pertanyaan apabila kurang mengerti, dan juga terkadang siswa di berikan pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan pelajaran tersebut oleh pengajar di sela-sela proses pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa dan mengukur seberapa persen siswa mengerti mengenai materi yang di ajarkan.
3.                  Manajemen Kelas.

Manajemen di dalam kelas tersebut cukup baik, dari segi peralatan pembelajaran ruangan tersebut cukup lengkap. Dari hasil proses observasi kami, suasana kelas tersebut tidak terlalu padat oleh siswa, lantai dan dinding kelas bersih, namun bangku dan meja yang terletak di pojok ruangan kelas kurang tertata rapi dan juga kelas cukup gerah dan panas. Apalagi hal ini di karenakan tidak adanya fasilitas kipas angin atau pendingin ruangan di ruangan belajar tersebut. Hal ini cukup dapat mengganggu proses pembelajaran dan siswa terlihat kegerahan sehingga menyebabkan berkurangnya konsentrasi belajar siswa terutama jika pada siang hari. Manajemen kelas yang efektif akan memaksimalkan kesempatan pembelajaran murid (Charles, 2002; Everstson, Emmer, & Worsham, 2003). Suasana kelas dan fasilitas yang lengkap serta manajemen kelas yang baik akan menunjang proses belajar mengajar.
Di dalam kelas terdiri dari 29 orang siswa yang terdiri dari 15 orang siswi dan 14 orang siswa. Gaya penataan meja siswa bergaya auditorium, dimana semua siswa duduk menghadap guru. Meja siswa berpasangan yang terdiri dari 4 baris ke samping dan masing-masing 4 baris ke belakang. Gaya penataan meja siswa sudah baik; dari setiap sisi tempat duduk siswa, siswa dapat melihat kearah pengajar dan papan tulis yang berada di bagian tengah depan kelas dengan jelas. Pencahayaan di dalam kelas juga baik, terutama di karenakan ruangan di lengkapi oleh jendela-jendela yang cukup baik.
4.                  Motivasi.

Dari segi motivasi belajar siswa, siswa terlihat cukup antusias dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat pada saat siswa di beri pertanyaan siswa dapat menjawab dengan baik dan juga siswa mau sesekali bertanya kepada pengajar. Pada saat di beri tugas pun tugas siswa dengan segera mengerjakan tugas yang di berikan oleh pengajar tersebut. Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan prilaku. Yang artinya, prilaku yang termotivasi adalah penuh energi, terarah, dan bertahan lama. Siswa termotivasi apalagi dikarenakan pengajar dapat menambahkan motivasi siswa. Setiap awal proses pembelajaran, pengajar terlebih dahulu memberikan kata-kata motivasi dan hal ini cukup dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar.
Proses pembelajaran siswa di dalam kelas tersebut berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Suasana kelas tersebut terasa hangat dan penuh dengan canda tawa di sela-sela pembelajaran. Pengajar juga menggunakan beberapa perspektif tentang motivasi antara lain perspektif behavioral dan perspektif kognitif. Dari segi behavioral siswa di berikan insetif ataupun reinforcement, contohnya pada saat pemberian tugas jika siswa mengumpulkan tugas tepat waktu dapat poin jika tidak mengumpulkan maka akan di hokum seperti menyapu halaman sekolah dll. Sedangkan dari segi perspektif kognitif, siswa siswa di berikan kesempatan dan tanggung jawab untuk mengontrol hasil prestasi, contohnya pada saat ujian siswa di berikan kesempatan dan tanggung jawab  untuk menentukan mau seberapa baik hasil ujiannya dengan belajar giat.
5.                  Teori belajar.

Teori belajar yang di gunakan di kelas yang di observasi ini menggunakan teori  belajar behavioral yang dimana siswa belajar dengan menggunakan insentif dan reinforcement, dimana kalau mereka tidak mengerjakan tugas mereka akan mendapatkan hukuman tetapi apabila mereka mengerjakan tugas mereka akan mendapat reward, seperti nilai mereka bagus. Hal ini terlihat pada saat kami melakukan observasi pada proses belajar bahasa inggris, dimana guru menjelaskan materi kepada siswa. Siswa cukup aktif dalam mendengarkan penjelasan dari pengajarkemudian mereka juga mendiskusi hasil penjelasan dari pengajar tersebut. Setelah pengajar selesai menjelaskan, pengajar memberikan tugas kepada siswa.
 
D.     RANGKUMAN HASIL OBSERVASI
                               1.   Menurut Kelompok
Menurut kelompok, dari observasi yang dilakukan dapat dilihat proses pembelajaran sekolah tersebut sudah cukup baik untuk konsep e-learningnya. Namun, belum sepenuhnya mencakup konsep e-learning yang sebenarnya. Contoh kekurangannya seperti, pengajar yang kurang terampil dalam menggunakan media teknologi.
Dari segi manajemen kelas, kelas tersebut sudah cukup baik dan peralatan pembelajaran yang mendukung e-learning sudah cukup lengkap.  Gaya penataan ruangan sudah baik sehingga membuat siswa dapat melihat pengajar dan whiteboard dengan baik dan jelas.
Untuk motivasinya, ada dua perspektif tentang motivasi yang digunakan di SMA Negeri Galang, yaitu perspektif behavioral dan kognitif.  Orientasi belajar yang digunakan adalah metode TCL ( teacher center Learning ) dimana proses pembelajaran berfokus dan bersumber dari guru. Siswa sendiri cenderung pasif dan mengikuti intruksi dari pengajar.

              2.         Menurut Pandangan Pribadi


           Menurut saya konsep e-learning di sekolah SMA Negeri 1 Galang ini sudah cukup baik. Contohnya dapat dari sistem kerja kelompok dalam menyelesaikan tugas dari pengajar. Selain itu media teknologi juga berperan didalamnya baik saat penyampaian materi maupun pengumpulan tugas melalui e-mail yang pastinya membuat murid belajar untuk yang namanya go green untuk mengurangi pemakaian kertas. Namun motivasi peserta didik tetap harus ditingkatkan. Ruangan kelas juga harus lebih ditingkatkan agar peserta didik lebih bersemangan untuk belajar.  

E. TESTIMONI PRIBADI


Tugas observasi dari matakuliah psikologi pendidikan ini adalh tugas observasi pertama but kami angkatan 2012. Pertama awalnya bingung juga mau ngerjainnya. Karena berpikir pasti sekolah-sekolah dengan e-learning adalah sekolah-sekolah yang mahal. Tentunya cara masuk untuk melakukan observasi pun akan menjadi sulit. Namun setelah di jelaskan dan dibimbing oleh dosen, kami akhirnya mengerti bagaimana konsep e-learning .

Kami memilih sekolah SMA negeri Galang untuk objek observasi kami. Alasan kami adalah ingin melihat bagaimana konsep e-learning di sekolah-sekolah daerah . dan hasilnya mereka juga tidak mau mengalah dengan sekolah yang ada di kota. Tugas observasi ini merukan pengalaman berharga bagi saya. Karena saya banyak mendapatkan pelajaran berharga didalamnya.