Jumat, 07 Juni 2013

Hasil Obsevasi E Learning

A.          PENJELASAN DESKRIPSI SEKOLAH
Nama Sekolah                       :SMA Negeri 1 Galang
Alamat                                   :Jl. Besar Kompleks Galinda, Kabupaten Deli Serdang, 
Kecamatan Galang (no.telp 7981645)
Uang Sekolah                        :Rp. 50.000,-
Konsep e-learning 
yang digunakan                     :Individual Online dan Offline
Lama waktu 
penggunaan e-learning         : 2011 - sekarang
Narasumber:                         : Haris Nasution, S.Pd
 
B.          URAIAN OBJEKTIF OBSERVASI
Pelaksanaan                                            Rabu, 15 Mei 2013
Kelas yang di Observasi                        Kelas X-4
Lama Observasi                                     2 jam pelajaran x 45 menit = 90 menit
Pembagian tugas dalam Observasi
M. Ikhsan Pratama (121301018)       : Manejemen Kelas
M. Ikhwan Nasution (121301021)     : Dinamika pembelajaran&HUMAS
Melfa Y. Simanjuntak (121301046)  : Motivasi
Melva Febrina N. (121301064)          : Uraian Objektif&dokumentasi
Dian Arizka Pratiwi P. (121301098) : Teori Belajar
Novalia Tarigan (121301110)             : Orientasi belajar


C.     LAPORAN HASIL OBSERVASI
   Dari observasi yang kami lakukan, kami mengobservasi beberapa aspek yang terjadi di dalam proses pembelajaran di sekolah khususnya di kelas X4. Antara lain aspek sistem pembelajaran khususnya sistem pembelajaran E-Learning, motivasi siswa, manajemen kelas, dan beberapa aspek lainnya.
1.                  Konsep E-Learning
Dari segi penggunaan sistem belajar, sekolah tersebut sudah menggunakan sistem E-Learning. Hal ini sangat terlihat dari penggunaan proyektor pada saat proses pembelajaran, dan juga siswa-siswi di sekolah tersebut tergabung dalam sebuah media jejaring sosial yang juga di gunakan dalam membantu proses pembelajaran. Dalam pembelajaran, siswa juga di berikan beberapa referensi dari internet, seperti yang kami lihat langsung pada saat observasi ke sekolah tersebut. Pada saat itu siswa sedang dalam proses mata pelajaran Bahasa Inggris yang bahan pelajarannya lewat E-book (electronic book) yang berjudul Developing English Competencies. Konsep E-Learning yang terlihat di kelas tersebut saat di observasi adalah meliputi offline dan sinkron. 
2.                  Orientassi Belajar
Orientasi pembelajaran yang di gunakan adalah teacher centre learning, dimana guru bertindak sebagai pengajar, pembawa materi pelajaran (metode ceramah), pengontrol utama suasana kelas, pemberi instruksi, pemberi tugas kepada siswa, dan lainnya. Sehingga siswa cenderung pasif dan mengikuti arahan dan petunjuk dari pengajar. Namun siswa di berikan kebebasan untuk memberi pertanyaan apabila kurang mengerti, dan juga terkadang siswa di berikan pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan pelajaran tersebut oleh pengajar di sela-sela proses pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa dan mengukur seberapa persen siswa mengerti mengenai materi yang di ajarkan.
3.                  Manajemen Kelas.
Manajemen di dalam kelas tersebut cukup baik, dari segi peralatan pembelajaran ruangan tersebut cukup lengkap. Dari hasil proses observasi kami, suasana kelas tersebut tidak terlalu padat oleh siswa, lantai dan dinding kelas bersih, namun bangku dan meja yang terletak di pojok ruangan kelas kurang tertata rapi dan juga kelas cukup gerah dan panas. Apalagi hal ini di karenakan tidak adanya fasilitas kipas angin atau pendingin ruangan di ruangan belajar tersebut. Hal ini cukup dapat mengganggu proses pembelajaran dan siswa terlihat kegerahan sehingga menyebabkan berkurangnya konsentrasi belajar siswa terutama jika pada siang hari. Manajemen kelas yang efektif akan memaksimalkan kesempatan pembelajaran murid (Charles, 2002; Everstson, Emmer, & Worsham, 2003). Suasana kelas dan fasilitas yang lengkap serta manajemen kelas yang baik akan menunjang proses belajar mengajar.
Di dalam kelas terdiri dari 29 orang siswa yang terdiri dari 15 orang siswi dan 14 orang siswa. Gaya penataan meja siswa bergaya auditorium, dimana semua siswa duduk menghadap guru. Meja siswa berpasangan yang terdiri dari 4 baris ke samping dan masing-masing 4 baris ke belakang. Gaya penataan meja siswa sudah baik; dari setiap sisi tempat duduk siswa, siswa dapat melihat kearah pengajar dan papan tulis yang berada di bagian tengah depan kelas dengan jelas. Pencahayaan di dalam kelas juga baik, terutama di karenakan ruangan di lengkapi oleh jendela-jendela yang cukup baik.
4.                  Motivasi.
Dari segi motivasi belajar siswa, siswa terlihat cukup antusias dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat pada saat siswa di beri pertanyaan siswa dapat menjawab dengan baik dan juga siswa mau sesekali bertanya kepada pengajar. Pada saat di beri tugas pun tugas siswa dengan segera mengerjakan tugas yang di berikan oleh pengajar tersebut. Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan prilaku. Yang artinya, prilaku yang termotivasi adalah penuh energi, terarah, dan bertahan lama. Siswa termotivasi apalagi dikarenakan pengajar dapat menambahkan motivasi siswa. Setiap awal proses pembelajaran, pengajar terlebih dahulu memberikan kata-kata motivasi dan hal ini cukup dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar.
Proses pembelajaran siswa di dalam kelas tersebut berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Suasana kelas tersebut terasa hangat dan penuh dengan canda tawa di sela-sela pembelajaran. Pengajar juga menggunakan beberapa perspektif tentang motivasi antara lain perspektif behavioral dan perspektif kognitif. Dari segi behavioral siswa di berikan insetif ataupun reinforcement, contohnya pada saat pemberian tugas jika siswa mengumpulkan tugas tepat waktu dapat poin jika tidak mengumpulkan maka akan di hokum seperti menyapu halaman sekolah dll. Sedangkan dari segi perspektif kognitif, siswa siswa di berikan kesempatan dan tanggung jawab untuk mengontrol hasil prestasi, contohnya pada saat ujian siswa di berikan kesempatan dan tanggung jawab  untuk menentukan mau seberapa baik hasil ujiannya dengan belajar giat.
5.                  Teori belajar.
Teori belajar yang di gunakan di kelas yang di observasi ini menggunakan teori  belajar behavioral yang dimana siswa belajar dengan menggunakan insentif dan reinforcement, dimana kalau mereka tidak mengerjakan tugas mereka akan mendapatkan hukuman tetapi apabila mereka mengerjakan tugas mereka akan mendapat reward, seperti nilai mereka bagus. Hal ini terlihat pada saat kami melakukan observasi pada proses belajar bahasa inggris, dimana guru menjelaskan materi kepada siswa. Siswa cukup aktif dalam mendengarkan penjelasan dari pengajarkemudian mereka juga mendiskusi hasil penjelasan dari pengajar tersebut. Setelah pengajar selesai menjelaskan, pengajar memberikan tugas kepada siswa.
D.     RANGKUMAN HASIL OBSERVASI
                               1.   Menurut Kelompok
Menurut kelompok, dari observasi yang dilakukan dapat dilihat proses pembelajaran sekolah tersebut sudah cukup baik untuk konsep e-learningnya. Namun, belum sepenuhnya mencakup konsep e-learning yang sebenarnya. Contoh kekurangannya seperti, pengajar yang kurang terampil dalam menggunakan media teknologi.
Dari segi manajemen kelas, kelas tersebut sudah cukup baik dan peralatan pembelajaran yang mendukung e-learning sudah cukup lengkap.  Gaya penataan ruangan sudah baik sehingga membuat siswa dapat melihat pengajar dan whiteboard dengan baik dan jelas.
Untuk motivasinya, ada dua perspektif tentang motivasi yang digunakan di SMA Negeri Galang, yaitu perspektif behavioral dan kognitif.  Orientasi belajar yang digunakan adalah metode TCL ( teacher center Learning ) dimana proses pembelajaran berfokus dan bersumber dari guru. Siswa sendiri cenderung pasif dan mengikuti intruksi dari pengajar.

              2.         Menurut Pandangan Pribadi. 


           Menurut saya konsep e-learning di sekolah SMA Negeri 1 Galang ini sudah cukup baik. Contohnya dapat dari sistem kerja kelompok dalam menyelesaikan tugas dari pengajar. Selain itu media teknologi juga berperan didalamnya baik saat penyampaian materi maupun pengumpulan tugas melalui e-mail yang pastinya membuat murid belajar untuk yang namanya go green untuk mengurangi pemakaian kertas. Namun motivasi peserta didik tetap harus ditingkatkan. Ruangan kelas juga harus lebih ditingkatkan agar peserta didik lebih bersemangan untuk belajar.  

E. TESTIMONI PRIBADI

Tugas observasi dari matakuliah psikologi pendidikan ini adalh tugas observasi pertama but kami angkatan 2012. Pertama awalnya bingung juga mau ngerjainnya. Karena berpikir pasti sekolah-sekolah dengan e-learning adalah sekolah-sekolah yang mahal. Tentunya cara masuk untuk melakukan observasi pun akan menjadi sulit. Namun setelah di jelaskan dan dibimbing oleh dosen, kami akhirnya mengerti bagaimana konsep e-learning .

Kami memilih sekolah SMA negeri Galang untuk objek observasi kami. Alasan kami adalah ingin melihat bagaimana konsep e-learning di sekolah-sekolah daerah . dan hasilnya mereka juga tidak mau mengalah dengan sekolah yang ada di kota. Tugas observasi ini merukan pengalaman berharga bagi saya. Karena saya banyak mendapatkan pelajaran berharga didalamnya.
 

Rabu, 05 Juni 2013

Pohon tertua di Dunia

Spruce Ione Norwegia 9550 tahun




Tingginya hanya 4 meter, namun sebatang pohon sejenis cemara, yang masih hidup di Swedia, diketahui berusia 9.550 tahun. Hidup sejak akhir zaman es, pohon tersebut tercatat sebagai yang tertua di dunia saat ini.


Spesies pohon spruce Ione Norwegia ini ditemukan tahun 2004. para peneliti menemukannya di sekitar semak-semak pegunungan pada ketinggian 910 meter di Provinsi Dalarna, Swedia. Pohon ini tidak langka karena penduduk sering menggunakan sebagai pohon Natal.

“Usianya yang sangat panjang kemungkinan besar dipicu emampuannya mengkloning diri sendiri,” ujar Leif Kullman, profesor eologi dan lingkungan hidup di Universitas Umea, Swedia. Batang dan rantingnya memang diketahui dapat bertahan hidup hingga 600 tahun. Kullman menjelaskan, saat batangnya mati, batang baru akan dibentuk dari akarnya sehingga umurnya menjadi sangat panjang.
Pohon ini lebih tua dari pinus Bristlecone di White Mountain California yang hanya berusia 5000 tahun. Pinus Bristlecone tertua hanya bertahan hidup hingga 7.500 tahun namun tumbuh menjulang hingga 150 meter. Jika umur pinus Bristlecone diukur dari garis pohon di rantingnya yang dipantau setiap tahun, umur cemara di Swedia diukur dari jejak radiokarbon di akarnya.

Kullman menyatakan pohon yang usianya lebih tua dari 9.550 tahun bisa dikatakan mustahil. Sebab, seluruh wilayah Swedia kemungkinan masih diliputi es saat itu.

Jumat, 31 Mei 2013

Aelita Andre Pelukis Abstrak di usia 2 tahun

Aelita Andre, gadis cilik kelahiran Melbourne, 9 Januari 2007 ini sudah mengikuti berbagai jenis pameran lukisan besar di beberapa negara. Aelita sudah mulai melukis saat umurnya menginjak 11 bulan. Karya pertamanya nya mulai dipamerkan kepada publik ketika umurnya 22 bulan. Aelita pun dijuluki sebagai seniman lukisan abstrak profesional oleh para kritikus seni .

Pelukis cilik yang disebut sebagai seorang anak ajaib ini telah kembali memamerkan karyanya disebuah pameran yang diselenggarakan di Agora Gallery, kota New York.

Setiap hasil karya Aelita dihargai dengan harga yang cukup bervariasi, dari ukuran yang terkecil (18 x 36") sehargaUSD 4.600 sampai ukuran yang paling besar (132 x 60") USD 12.900. Rekor penjualan tertinggi dia pecahkan dengan terjualnya lukisan stasiun angkasa luar Rusia yang dibanderol dengan harga USD 24.000, WOW.

Editor dari New York



Times bernama Noah Horrowitz menyebutkan Aelita sebagai penerus dari Jackson Pollock.

Rabu, 29 Mei 2013

Anak Autis : Bakat Terpendam Anak Autis

Bagi banyak orang tua , memiliki anak autis tak beda dengan mendapatkan musibah seumur hidup karena dalam bayangan mereka , mereka harus merawat anak yang tergolong cacat padahal sejatinya tidak seperti itu. Pemahaman tsb adalah tidak benar ,  Orangtua boleh saja bersedih jika anaknya mengalami autis, tapi jangan terlalu lama. Karena anak autis ternyata punya kelebihan istimewa yang bisa membuatnya mandiri.
Anak autis memiliki kelebihan visual yang kuat. Anak autis akan lebih mudah mengerti sesuatu dari gambar ketimbang hanya omongan. Kemampuan visual yang tinggi ini akan memudahkan anak belajar bersosialiasi.Kelebihan visualisasi inilah yang harus dimanfaatkan orangtua untuk memberikan bekal mandiri. Anak autis susah mengerti jika hanya diajarkan dengan omongan.
Jika ingin memberitahu mengupil tidak boleh sembarangan, maka orangtua harus memperlihatkan gambar orang sedang mengupil yang disampingnya ada tanda silang (dilarang). Lalu diberi lagi gambar pembanding yang dibolehkan orang sedang mengupil di kamar atau kamar mandi yang disampingnya diberi tanda contreng (benar).
Contoh lain, jika ingin mengajak anak autis ke luar rumah seperti ke mal, maka beberapa hari sebelumnya diperlihatkan gambar mal dan seperti apa di dalamnya yakni eskalator, lift, toko dan lainnya. Itu dilakukan berulang-ulang sampai anak paham.
Anak autis bukan tidak bisa diajarkan disiplin, tapi pelajaran ini bisa dimulai sejak masih kecil. Berilah batasan-batasan tegas antara yang boleh dan tidak boleh, beri pujian jika anak berhasil melakukan hal baik.
Jika anak tidak bisa mengerti melalui ucapan, cobalah divisualisasikan dalam bentuk gambar. Hal ini harus dilakukan berulang-ulang dan penuh kesabaran. Jika orangtua tahu cara mengajarkan anak autis, maka hal ini akan menjadi salah satu hal yang menarik.Dalam mengajarkan kemandirian pada anak autis harus dilakukan secara bertahap dan tidak bisa langsung drastis karena anak autis juga membutuhkan masa transisi, orangtua bisa memulainya terlebih dahulu dengan segala kegiatan di kehidupan sehari-hari.
Kemandirian ini bisa dimulai dari kehidupan sehari-hari si anak seperti bisa mengerti perintah sederhana, melakukan segala sesuatunya sendiri hingga nanti anak tumbuh menjadi dewasa dan diharapkan nantinya mereka bisa memiliki penghasilan sendiri.Jangan sekali-kali orangtua memiliki pemikiran anak autis tidak bisa diajari, tapi jika metode pengajaran yang diberikan berulang-ulang, setiap hari secara teratur, terstruktur serta bertahap, maka anak autis dapat tumbuh menjadi mandiri.
Selain itu siapkan terlebih dahulu anak sebelum dibawa keluar oleh orangtua, karena jika anak sudah siap untuk keluar maka kondisi ini tidak akan menjadi bumerang bagi orangtua.Banyak beberapa orangtua yang mengajak anaknya ke mal, padahal secara emosional anak belum siap untuk keluar. Akibatnya anak menjadi sangat hiperaktif dan menjadi tontonan orang-orang. Hal ini tentu akan menjadi bumerang bagi orangtua itu sendiri.
Jika orangtua ingin mengajak anaknya keluar, cobalah untuk melakukan simulasi dulu di rumah seperti memperlihatkan gambar mal seperti apa karena anak autis sangat kuat kemampuan visualnya.Setelah itu beritahu anak apa saja yang akan dilihatnya di mal nanti dan apa yang boleh serta tidak boleh dilakukannya. Berikan pengertian seperti itu secara berulang-ulang. Setelah anak mengerti coba dulu berada di mal selama 5 menit, lalu secara bertahap waktunya ditambah.
Orangtua dari anak autis harus memiliki kesabaran yang tinggi, mau mencari tahu segala macam informasi serta mau melakukan sesuatu. Namun ada 3 M yang tidak boleh dimiliki oleh orangtua lakukan yaitu marah, mengeluh dan mengabaikan. Karena mereka merupakan anak-anak titipan Tuhan bagi kita. Dan tugas kita lah untuk menjaga dan merawat mereka.